ShoutMix chat widget

18 February 2010

Sosok pemimpin

Melihat situasi dan perkembangan dari perseteruan kepemimpinan yang marak akhir-akhir ini, seyogiannya kita dapat menggali dan mencari rujukan yang pas mengenai konsep dan ide kepemimpinan ibadah yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran.

Kepemimpinan ibadah dapat dipandang sebagai perwujudan amal sholeh jika bertitik tolak dari yang niat baik. Niat baik tersebut akan memunculkan motivasi dan aktivitas untuk mencapai hasil yang bagus demi kesejahteraan bersama.

Sedikitnya ada empat kerangka umum yang mesti ada dalam jiwa seorang pemimpin, yaitu kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keahlian.

Kepemimpinan harus berjalan secara adil. Batasan adil ini adalah pemimpin tidak menganiaya bawahannya dan sebaliknya bawahanpun tidak merugikan pimpinan.

Bentuk penganiayaan yang dimaksudkan di sini adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan. Sebaliknya bawahan juga tidak memaksakan pimpinan untuk meluluskan seluruh aspirasi yang dirasakannya benar dan memihak bawahan semata-mata. Jika seorang bawahan mengharuskan pimpinannya bertindak melampaui norma dan aturan yang ditentukan, maka sebenarnya bawahan itu telah mendzalimi pimpinannya. Dan ini sangat ditentang oleh konsep amal sholeh tadi

Oleh sebab itu kesepakatan kerja harus dibuat untuk kepentingan bersama antara pimpinan dan bawahannya. Sebagai seorang atasan hendaknya pemimpin mampu mengelola dan mempertahankan kerjasama dengan anggotanya dalam kurun waktu yang lama dan bukan hanya hubungan sesaat.

Pemimpin yang mencari nilai ibadah, tidak mengenal perbedaan perlakuan (diskriminasi) dan hak-hak istimewa berdasarkan kekerabatan, suku, kedaerahan, ras termasuk agama dan kepercayaan. Konsep ini menganjurkan pluralitas dan kerjasama tim demi menjalankan amanah kepemimpinan tadi secara menyeluruh.

Adapun sosok kepemimpinan yang bernilai ibadah tadi harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

Pertama, Tauhid yang memandang bahwa segala aset dan kekuatan organisasi yang terjadi adalah milik Allah adapun manusia yang didalamnya hanyalah pelayan yang mendapatkan amanah untuk mengelolanya.

Kedua, Adil artinya segala keputusan menyangkut transaksi atau kesepakatan kerja harus dilandasi dengan ''akad saling setuju'' .

Ketiga adalah Kehendak bebas . Kepemimpinan Ibadah mempersilahkan anggotanya untuk menumpahkan kreativitas dan aktivitasnya sepanjang memenuhi tujuan kebersamaan dalam mencapai nilai-nilai kebenaran bersama.

Dan keempat adalah Bertanggung jawab . Semua keputusan yang diambil baik pimpinan maupun bawahan haruslah dipertanggungjawabkan dihadapan majelis paripurna keanggotaan.

Keempat pilar tersebut akan membentuk konsep etika kepemimpinan yang fair, baik saat melakukan kontrak-kontrak kerja dengan pihak lain atau pun antara pimpinan dengan anggotanya.

Ciri lain kepemimpinan ibadah yang membedakannya dari kepemimpinan lain adalah seorang pimpinan itu harus bersikap lemah lembut terhadap anggotanya. Contoh kecil, Pemimpin tadi hendaklah selalu memberikan senyum ketika berpapasan dengan anggotanya dan mengucapkan terima kasih ketika pekerjaannya sudah selesai. Namun, kelembutan tersebut tidak lantas menghilangkan ketegasan dan disiplin yang diterapkan..

Jika anggota tersebut melakukan kesalahan, tegakkanlah aturan. Penegakkan aturan harus konsisten dan tidak pilih kasih.

Kepemimpinan ibadah juga memiliki reward control terhadap anggotanya berupa penghargaan khusus atas prestasi kerja yang diberikan. Bentuk penghargaan ini bukan hanya berupa materi, tapi juga berupa perhatian.

Akhirnya dengan niat baik akan menuntun kita melakukan pekerjaan dengan baik untuk hasil yang semakin baik pula. Semoga.


Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Sosok pemimpin"

Post a Comment